AL-MAWADDAH FIL-QURBA

Koleksi perbahasan Ilmiah Tentang Mazhab Ahlul Bayt as

Senarai buku-buku mazhab Ahlul Bayt as untuk anda baca secara percuma dalam format PDF boleh diakses di sini. Artikel ilmiah boleh diakses di sini.

  1. Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah - 19/02/2018 01:52:32 PM [33] Baca seterusnya »
  2. Tuduhan Sunni Terhadadap Syiah,Ternyata Sunni Pembohong Besar - 23/12/2017 08:01:38 PM [62] Baca seterusnya »
  3. Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu Maudhu’ - 14/10/2017 01:16:40 PM [83] Baca seterusnya »
  4. Benarkah Yazid bin Mu’awiyah Tidak Terlibat Dalam Pembunuhan Husain bin Ali AS? - 07/10/2017 05:29:56 PM [60] Baca seterusnya »
  5. Wasiat Muawiyah Kepada Yazid Agar Membunuh Imam Husayn AS - 07/10/2017 05:15:55 PM [73] Baca seterusnya »
  6. Sejarah Berdarah Kaum Wahabi-Salafy Atas Kuburan Al-Baqi - 07/10/2017 11:57:29 AM [71] Baca seterusnya »
  7. Meluruskan Prasangka Tradisi Asyura (10 Muharram) - 02/10/2017 05:45:39 PM [61] Baca seterusnya »
  8. Hari Asyura: Perintah Menangis Untuk Imam Husayn as - 24/09/2017 03:30:56 PM [71] Baca seterusnya »
  9. Pesanan Haji Ayatollah Khamenei 2017 - 31/08/2017 01:25:52 PM [54] Baca seterusnya »
  10. Ancaman Kepada Mereka Yang Membenci Ahlul Bayt as - 18/07/2017 03:23:20 PM [82] Baca seterusnya »

    Selanjutnya »: 1 2 3 4 [Next] [Last Page]


    Sila baca perbahasan di bawah ini. Ia telah diakses 117 kali.

    Ahlulbait Suci Nabi As. Adalah Hablullah (Tali Allah)

    Ahlulbait Nabi As. Adalah Hablullah

    Allah SWT berfirman:

    و اعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا و لاَ تَفَرَّقُوا

    “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah ka,nu bercerai berai.. ..(QS:3;103)

    Makna Ayat Secara Umum:

    Setelah Allah mengingatkan umat Islam tentang bahaya mengikuti dan menta’ati orang-orang Yahudi dan Nashara, kanena mereka akan selalu berusaha untuk menelanjangi umat Islam dari keimanan dan mengembalikan mereka kepada kekafiran. Dan setelah Allah SWT memerintahkan kepada setiap individu kaum Muslim agar bertaqwa kepada Allah dengan arti yang sesungguhnya dan memeliliara keimanan dan ketaqwaan tersebut sehingga akhin hayat mereka… Setelah menyampaikan perintah agar bertaqwa dan larangan untuk mati kecuali dalam keadaan membawa iman dan Islam, Allah SWT memberikan petunjuk yang dapat memperjelas larangan dan perintah di atas; larangan untuk ta’at kepada sekelompok Ahlul-Kitab (Yahudi clan Nashara) dan perintah untuk bertaqwa dan mati dalam keadaan iman dan Islam.Dengan berpegang teguh kepada Habl Allah, umat Islam dapat memelihara kemurnian iman mereka dan dapat hidup di bawah naungan rahmat Allah. Allah melarang umat untuk hercerai-berai dan herselisih dengan mengikuti jalan-jalan selain jalan Allah, yaitu jalan-jalan yang menyimpang dari jalan petunjuk Al qur’an dan fanatisme kebendaan dan kesukuan. 

    Perintah agar bertaqwa dan mati dalam keadaan Islam pada ayat-ayat sebelum ayat yang sedang kita bahas di sini tertuju kepada kaum Muslim secara individu, sementara focus pada ayat ini terjutu kepada Jama’ah (kelompok). Ayat ini memerintah masyarakat Islam agar berpegang teguh dengan Tali Allah SWT. Hal tersebut dapat disimpulkan dari disebutkannya kata (جَمِيْعًا) dan (لاَ تَفَرَّقُوا).

    Allah memrintah seluruh masyarakat Muslim agar berpegang dengan Hablullah dan tidak bercerai berai sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani, atau seperti apa yang mereka alami di masa jahiliyah sebelum mereka mendapat anugrah Allah dengan diberinya hidayah dan petunjuk menerima kebenaran kenabian Rasullah saw. di mana mereka saling bermusuhan, bunuh membunuh.

    Dalam sebuah hadis, seperti disebutkan Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas, Rasulullah saw. menjelaskan tiga komposisi yang membentuk sebuah formula sempurna demi terealisasinya perintah Allah dalam ayat di atas. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnys Allah menyukai untuk kalian tiga hal dan membenci tiga hal lain; Dia suka kalian menyembahNya dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun, agar kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak bercerai berai dan setia kepada orang yang diangkat Allah sebagai wali(pemimpin) kalian. Dan Dia membenci untuk kalian tiga hal; banyak pendapat, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” [1]

    Perbedaan Penafsiran Makna Kata Hablullah

    Para mufassir sedikit berbeda pendapat dalam memaknai kata Hablullah dalam ayat di atas. Secara bahasa kata habl berartikan tali, kemudian kata tersebut dipinjam untuk menunjukkan sebab/segala yang menyampaikan kepada suatu tujuan. Sebagian mengartikannya dengan Islam itu sendiri. Berpegang dengan tali Allah artinya berpegang teguh dengan agama Islam. Ada pula yang menafsirkan kata Hablullah dengan Al qur’an, sebab Alqur’an-lah kitab suci pembawa petunjuk ke jalan kebenaran dan yang akan menghindarkan dari kesesatan dak kebinasaan. Raghib Al Isfahani kemaknai kata hablullah pada ayat di atas dengan “sesuatu yang dengannya dapat sampai kepada-Nya, baik berupa Al qur’an, akal dan yang lainnya yang apabila Anda berpegang teguh dengannya Anda asti sampai ke Hadirat-Nya.”[2] Sementara itu ada yang memberikan penafsiran bahwa Tali Allah yang harus diegangi adalah Ahlulbait suci Nabi as. Pendapat terakhir ini dipilih dan diyakini oleh sekelompok ulama Ahlusunnah berdasarkan beberapa hadis.

    Namun apabila kita perhatikan dan kita renungkan dengan seksama, pada dasarnya ketiga pendapat di atas tidak saling bertentangan, ia justeru saling mendukung dan melengkapi. Tali Allah adalah agama Islam. Dan Al qur’an adalah kitab suci agama Islam yang harus dijadikan pedoman dalam keberagaman setiap Muslim, sementara untuk dapat sampai kepada ajaran Islam yang terangkum dalam kitab suci tersebut adalah dengan berujuk dan kembali kepada Ahlulbait suci Nabi saw., sebab merekalah pewaris Al qur’an.

    Ajaran Islam hanya dapat diterima dengan murni apabila ia bersandar kepada Al qur’an -sebagai kitab pedoman seluruh umat manusia- dan Ahlulbait- yang menafsirkan, mempraktikkan dan memeliharanya dari berhagai usaha penyimpangan dan penyalahgunaan yang dilakukan oleh sekelompok penabur henih fitnah dan perselisihan, atau kelompok-kelompok sesat lainnya. Ahlulbait-lah yang paling berhak menjelaskan kandungan Al qur’an, khususnya ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang samar). Dengan demikian penyimpangan dan penyelewengan yang didasarkan pada ayat-ayat mutasyabihat tersebut yang berlangsung selama berbad-abad akan terselesaikan.

    Islam yang ditegakkan di atas dwi pilar; Al qur’an dan Ahlulbait as. pasti akan dapat menyelamatkan umat Islam dari penyelewengan dan kesesatan, sebagaimana sabda Nabi saw. dalam hadis Tsaqalain:

    Al Baihaqi dengan sanadnya kepada Ali ibn Musa ar Ridha as., beliau berkata, ayahku Musa ibn Ja’far menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, ayahku Ja’far ibn Muhammad menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, ayahku Muhammad ibn Ali menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, ayahku Ali ibn Husain menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, ayahku Husain ibn Ali menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, ayahku Ali ibn Abi Thalib as. menyampaikan hadis kepadaku, beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda:

    كَأَنِّيْ دُعيتُ فَأَجَبْتُ، و إِنِّيْ تاركٌ فيكم الثقلين أحدهُما أكبرُ مِنَ الآخرِ: كتابُ اللهِ حبلٌ مَمْدودٌ بينَ السماءِ إلى تالأرضِ، و عِتْرَتِيْ أهلَ بيتِيْ، فَانظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما.

    Seakan aku dipanggil dan aku memenuhi panggilan itu. Dan aku akan tinggalkan di tengah-tengah kalian tsaqalain (dua pusaka), yang satu lebih besar dari yang lain; yaitu Kitab Allah –Azza wa Jalla-, tali yang terbentang antara langit dan bumi, dan itrahku yaitu Ahlulbaitku. Maka perhatikan bagaimana sikap kalian terhadap keduanya sepeninggalku.”[3]

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid ibn Tsabit dengan sanad jayyid (bagus):

    إِنِّى تَارِكٌ فِيْكُمْ خَلِيْفَتَيْنِ: كِتَابُ اللهِ حَبَلٌ مَمْدُوْدٌ مَابَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَعِتْرَتِى   أَهْلَ بَيْتِى، وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

    Sesungguhnya aku akan tinggalkan padamu kedua penggantiku (khali­fahku); Kitab Allah, tali penghubung yang terentang antara langit dan bumi, dan Itrahku, yaitu Ahlulbaitkku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa denganku di telaga Al-Haudh.[4]

    Imam Muslim dan para muhaddis lain meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, ia berkata:

    قام رسول الله (ص) يَوْمًا فِيْنَا خَطِيْبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمَّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ، فَحَمِدَ اللهَ وَاَثْنَى عَلَيْهِ، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ: اَمَّا بَعْدُ، اَلاَ اَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ اَنْ يَأْتِىَ رَسُوْلُ رَبِّي فَأُجِيْب، وَاَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ الثَّقَلَيْنِ: اَوَّلَهُمَا كِتَابَ اللهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّوْرُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسِكُوْا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيْهِثُمَّ قَالَ: وَاَهْلَ بَيْتِى: اُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِىْ، اُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِىْ، اُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِىْ.

    “Pada suatu hari Rasulullah saaw. berdiri di hadapan kita di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato. Maka beliau memanjat­kan puja dan puji atas Allah, menyampaikan nasihat dan peringatan. Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah – wahai manusia – sesungguhnya aku hanya seorang manusia; Aku merasa bahwa, utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan aku akan memenuhi panggilan itu. Dan aku tinggalkan padamu Al-Tsaqalain; yang pertama: Kitab Allah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka berpegang teguhlah dengan Kitab Allah”. Lalu beliau mengan­jurkan (kita) agar berpegang teguh dengan kitab Allah – kemudian beliau melanjutkan: “Dan Ahl AlBaitku. Kuperingatkan kalian akan Ahl Ah-Baitku (beliau ucapkan ini tiga kali). [5]

    Al Hafidz Ibnu Uqdah, Abu Musa al Madini dan Al Hafidz Ibnu Hajar meriwayatkan dari dari Amir ibn Abi laila dan Hudzaifah ibn Usaid melalui jalur Abdullah ibn Sinan dari Abu Thufail, keduanya berkata, “Ketika Rasulullah pulang dari haji wada’ (dan beliau tidak menunaikan haji selainnya), beliau berjalan sehingga ketika sampai di Juhfah, beliau melarang orang-orang untuk berteduh di bawah beberapa pohon besar yang berdekatan. Setelah orang-orang berkumpul dan menempati tempat mereka masing-masing, beliau memerintahkan agar disekitar pohon itu dibersihkan, kemudian beliau menghadap kepada manuaia, Dan hari itu adalah hari Khum< Khum itu berada di Juhfah, di sana ada masji d yang terkenal, lalu Rasulullah saw. bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengatahui telah mengabarkan kepadaku bahwa setiap nabi tidak akan berumur kecuali setengah dari umru nabi sebelumnya. Dan aku yakin bahwa aku akan dipanggil dan akupun memenuhi panggilan itu. Aku akan mempertanggung jawabkan, daan kalian juga akan memepertanggung jawabkan. Maka apakah aku telah mentablkighkan? Apa yang akan kalian katakan?” Mereka serempak berkata, “Kami akan mengatakan, “Engkau telah menyampaikan, berjuang dan tulus menasihati. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.”Nabi melanjutkan, “Tidakkah kalian bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhamad adalah hamba dan utusan-Nya? Dan sesungguhnya surga itu haq? neraka itu haq? kebangkitan setelah kematian itu haq?

    Mereka berkata, “Benar kami bersaksi.”

    Beliau bersabda, “Ya Allah saksikan!”

    Kemudian beliau saw. melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian mendengar! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah adalah mawla (pemimpin)ku, dan aku lebih berhak atas kalian dari diri kalian sendiri. Maka ketahuilah barang siapa yang aku mawlanya maka Ali mawlanya. Kemudian beliau memegang tangan Ali dan mengangkatnya sehingga semua menyaksikannya. Setelahnya beliau bersabda, “Ya Allah bimbinglah yang berwailayah kepada Ali dan musuhilah yang memusuhinya. Lalu beliau melanjtkan:

    أَيَّها الناسُ، أنا فَرَطُكُم، وَ إنَّكُمْ وارِدُون عَلَيَّ الحوضَ، أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى و صَنْعاءَ، فيه عددُ نُجومِ السماءِ قُدحانُ مِن فِضّةٍ، أَلآ و إنِّيْ سائلُكُمْ عن الثقلين، فأنظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهما حين تَلْقَوْنِيْ.

    Wahai sekalian manusia, akau akan mendahului kalian, dan kalian akan mendatangiku di Haudh, telaga yang lebih luas dari Busha dan Shan’a’, di dalamnya terdapat cawan-cawan perak sejumlah bintang di langit. Ketahuilah bahwa aku akan menanyai kalian -ketika kalian datang menghadapku- tentang Tsaqalain, maka perhatikan bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya sepeinggalku.”

    Mereka bertanya, “Apa Tsaqalain itu wahai Rasulullah?”

    Beliau saw. bersabda,

    الثقلُ الأكبر كتاب اللهِ سببٌ طرفٌ بِيَدِ اللهِ و طرفٌ بِأَيْدِيكُمْ، فاستمسِكُوا بهِ لا تضِلُّوا ولا تُبَدِّلُوا، أَلآ و عترتِيْ، فإِنِّيْ قَدْ نَبَّأنِيْ اللطيفُ الخبِيْرُ أنْ لا يتَفَرَّقا حتى يَلْقَيانِي، و سألتُ اللهَ رَبِّيْ لهمْ ذلكَ فَأَعْطانِيْ، فَلاَ تَسْبِقُوهُمْ فتهْلِكُوا، ولا تُعَلِّموهُمْ فَهُمْ أَعلمُ منكم.

    “Kitab Allah, sebuah sebab yang satui ujungnya di Tangan Allah dan satu ujung laninnya di tangan kalian. Berpegang tegunlah kalian dengannya pasti kalian tidak akan tersesat,. Jangan kalian merubah-rubah. Ketahuialah, dan Itrahku. Sesungguhnya Dzat Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah mengabarkan kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku, dan aku memohon kepada Allah Tuhanku agar Dia memperkenankan hal untuk mereka dan Dia memperkenankannya. Maka janganlah kalian mendahului mereka agar tigak celaka, jangan menggurui mereka, sebab mereka lebih mengetahui dari kalian”[6]

    Dari penjelasan sekilas di atas dapat dimengerti bahwa pemknaan Habl-Allah dengan Ahlulbait bukanlah penafsiran yang mengada-ada atau dipaksakan. Ia justru terdukung oleh ayat-ayat Al qur’an itu sendiri dan riwayat-riwayat sabda suci Nabi saw. yang sahih.

    Ayat.ayat Al qur’an yang Menjelaskan bahwa HabI-Allah adalah Ahlulbait

    Adapun ayat-ayat yang mendukung penafsiran bahwa Ahlulbait as. yang dimaksud dengan HabI-Allah adalah banyak, di antaranya:

    1. Allah SWT berfiman:

     اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ

    Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS:1;6)

    Dalam riwayat-riwayat yang sahih ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah jalan Ahlulbait as.

    Al Hakim Al Hiskani Al Hanafi meriwayatkan dari Abu Buraidah, ia berkata, “Jalan Yang Lurus ada!ah jalan Muhammad dan keluarganya”.

    Al Hakim juga meriwayatkan dari Sufyan Al Tsauri dari Asbath dan Mujahid dari Ibnu Abbas, ketika menafsirkan ayat tersebut, ia berkata, “Katakanlah wahai manusia, ‘Berilah kami petunjuk ke jalan kecintaan kepada Nabi saw. dan Ahlulbait beliau.’ “[7]

     Hadis-hadis Yang Menunjukkan Bahwa Ahlulbait Nabi as. Adalah Hablullah

    Banyak riwayat sabda Nabi saw. dan pernyataan para pemimp[in umat Islam bahwa yang dimaksud dengan Hablullah dalam ayat di atas adalah Ahlulbait suci Nabi as. Merekalah tali Allah yang kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengannya agar tidak bercerai berai dalam agama.

    Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa darinya:

    مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْكَبَ سفينَةَ النجاةِ و يَسْتَمْسِكَ بالعُرْوَةِ الوُثْقَى و يَعْتَصِمَ بِحَبْلِ الله المَتِيْنِ فَلْيُوالِ عَلِيَّا بَعْدِيْ و لْيُعادِ عدوَهُ، و لْيَأَتَمَّ بالأئِمَّةِ الهُداةِ مِن وُلْدِهِ، فَإِنَّهُمْ خُلفَائِيْ و أَوْصِيائِيْ و حُجَجُ الله على خَلْقِهِ بعْدِيْ و سادة أُمَّتِيْ و قادةُ الأتقِياءِ إلى الجنَّةِ. حِزْبُهُم حزبِي، و حزبِي حزب اللهِ، وَحزب أعْدائِهِم حزبُ الشيطانِ.

    Barang siapa ingin untuk berlayar dengan “bahtera Nuh”, menggenggam tali yang kokoh dan berpegang dengan hablullah, tali Allah yang kuat maka hendaknya ia berwilayah (berpemimpin dengan) Ali setelahku, dan hendaknya ia memusuhi musuh Ali, dan hendaknyan ia berma’mum dengan para imam dari keturunan pembawa hidayah dari keturunan Ali, karena sesunguhnya mereka adalah para Khalifahku, para pengemban wasiat (kepemimpinanku), hujjah-hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya setelahku, para penghulu umatku, pemimpin kaum bertaqwa menuju surga. Partai (golongan) mereka adalah partaiku dan partaiku adalah partai Allah, dan partai musuh-musuh mereka adalah partai setan!”[9]

    Penukilan tafsir ini dari Imam ja’far as. telah dibenarkan oleh para ulama Ahlussunnah dalam kitab-kitab mereka, dan mereka menggolongkannya sebagai ayat keutamaan yang turun untuk Ahlulbait as… Di bawah ini akan saya sebutkan nama-nama mereka:

    وَلَمَّا رَأَيْتُ النَّاسَ قَــدْ ذَهَبَتْ بِهِــمْ **مَذَاهِبُهمْ فِيْ اَبْحُــرِ الْغَيِّ وَالْجَهْـلِ

    رَكِبْتُ عَلَى اسْمِ اللَّهِ فِيْ سُفُنِ النَّجَا     ** وَهُمْ اَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَفَى خَاتَمِ الرُّسُلِ

    وَاَمْسَكْتُ حَبْـلَ اللَّهِ وَهُوَ وِلاَؤُهُمْ **كَمَا قَدْ اُمِرْنَا بِالتَّمَسُّـــكِ بِالْحَبْـــلِ

    اِذَا افْتَرَقَتْ فِيْ الدِّيْنِ سَبْعُوْنَ فِرْقَــةً**         وَنَيِّفًا عَلَى مَا جَــــاءَ فِيْ وَاضِحِ النَّقْلِ

    وَلَمْ يَكُ بِنـــَاجٍ مِنْهُمْ غَيْرُ فِرْقَـةٍ**     فَقُـلْ لِيْ يَــاذَا الرّجَاحَــةِ وَالْعَقْــلِ

    أَ فِيْ الْفِرْقَــةِ الْهُلاَّكِ آلُ مُحَمَّــدٍ**     اَمِ الْفِرْقَةِ اللاَّتِيْ نَجَتْ مِنْهُمْ ؟ قُلْ لِـيْ

    فَاِنْ قُلْتَ فِيْ النَّاجِيْنَ فَالْقَوْلُ وَاحِدٌ **رَضِيْتُ بِهِــمْ لاَ زَالَ فِيْ ظِلِّهِــمْ ظِلِّيْ

    رَضِيْتُ عَلِيـًّا لِيْ اِمَامًــا وَنَسْلَــهُ** وَاَنْتَ مِنَ الْبَاقِيْنَ فِيْ اَوْسعِ الْحِـــلِّ

    Dan ketika akun saksikan manusia terseret oleh aliran-aliran mereka dalam lautan kesesatan dan kebodohan…

    Aku berlayar dengan nama Allah di atas bahtera keselamaatn, yaitu Ahlulbait (Nabi) al Mushthafa penutup para rasul…

    Aku pegang erat-erat tali Allah yaitu berwilayah kepada mereka, sebagai telah diperintah kepada agar berpegang dengan tali itu…

    Apabila umat telah berpecah belah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan, seperti dating dalam hadis…

    Dan tiada yang selamat melainkan satu golongan… Maka katakan kepadaku wahai Anda yang berakal…

    Ap[akah keluarga suci (Nabi) Muhammad termasuk yang celaka? Atau termasuk yang salamat? Katakan kepadaku!

    Jika kamu katakana mereka yang selamat, maka pendapat tentangnya satu… Aku rela menjadikan mereka para imam, bayangannku selalu mengikuti bayanagn mereka.

    Aku rela menjadikan Ali dan keturunannya sebagai para imam… dan terserah Anda menjadikan yang lain

    Wilayah Ahlulbait as. adalah Tali Allah

    Apa yang ditegaskan Imam Syafi’i dalam bait-bait syair di atas bahwa berwilayah dan mengakui Ahlulbait as. sebagai awliyaa’ (jamak kata wali/pemimpin) adalah apa yang disabdakan Rasulullah saw. Dalam banyak hadis beliau yang sahih. Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyebutkan satu hadis yang disebutkan Al Hiskani ketika menafsirkan ayat di atas.

    Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abaan ibn Taghlib dari Ja’far ibn Muhammad, beliau berkata, “Kamilah Tali Allah yang difirmankan, ‘Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah’. Maka barang siapa berpegang teguh dengan wilayah Ali ia berberpegang teguh dengan kebajikan. Maka barang siapa berpegang teguh dengan Ali ia beriman dan barang siapa meninggalkannya ia keluar dari keimanan.”[20]

    Larangan Keras Berpecah dan Berselisih Dalam Agama

    Seperti telah jelas bagi kita, bahwa ayat tersebut memerintah umat Islam agar berpegang dengan Hablullah dan melarang mereka berselisih dan bercerai berai dalam agama. Larangan tersebut telah ditegaskan berulang kali dalam ayat-ayat Al qur’an, dengan menjelaskan sebab-sebab kemunculannya dan akibat buruk dan bahaya yang akan ditimbulkannya.

    Allah SWT berfirman:

    وَ لاَ تَكُوْنُوا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ * مِنَ الذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحِيْنَ.

    “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah *yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka “(QS: (Ruum) 30;30-32)

    Dalam ayat ini Allah meralang umat Islam terjebak dalam dinding-dinding perpecahan dan bercerai-berai dalam agama seperti yang dialami kaum musyrikin. Hal mana semua itu terjadi sebagai akibat dari kezaliman atas diri, menuruti hawa nafsu dan menjadikannya sebagai pemegang kendali dalam keberagamaan mereka tanpa ilmu pengetahuan, bukan ketundukan kepada kebenaran dan kepatuhan kepada rambu-rambu yang ditetapkan Allah SWT. seperti diterangkan dalam ayat sebelumnya. Allah SWT berfirman:

    بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِعِلْمٍ ، فَمَنْ يَهْدِيْ مَنْ أَضَلَّ اللهُ، وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِيْنَ.

    “Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan ;maka siapakah yang akan menunjuki orang yang disesatkan Allah ? Dan tidakalahbagi mereka seorang penolong”(QS:30;29)

    Dalam ayat 105 surah Aalu Imraan, tepatnya dua ayat setelah ayat perintah berpegang teguh dengan Hablullah, Allah SWT kembali menegaskan dengan keras larangan itu:

    وَ لاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَ اخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ البَيِّنَاتُ، وَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.

    “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat “.(QS: 3;105)

    Bahkan Nabi saw. telah mengingatkan agar umatnya tidak mengalami apa yang dialami oleh umat sebelum mereka. Jalaluddin As-Suyuthi berkata, “Ibnu Majah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. Bersabda, “Bani Isra’l berpecah menjadi tujuh puluh satu sekte dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh dua sekte, semuanya di dalam neraka kecuali satu.” Mereka bertanya, ‘Siapakah yang satu itu?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’ Kumudian beliau membaca ayat:

    و اعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا

    “Dan berpeganglah kamu selaian dengan tali Allah”.[21]

    Akan tetapi, sepertinya peringatan itu kurang diindahkan, sehingga perpacahan di tengah-tengah umat pun tak terelakkan.Para tokoh muhaddis Ahlusunnah seperti Bukhari, Muslim, Al Hakim dan lainya meriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa Nabi saw. Bersabda, ““Kalian benar-benar akan mengikuti jajak orang-orang sebelum kamu, sejengkang dami sejangkang dan sehasta demi sehasta, sehingga apabila mereka masuk kedalam lubang biawak niscaya kamu ikuti.Kemudian ada yang bertanya: Wahai Rasulullah: Apakah orang-orang Yahudi dan Nashrani yang dimaksud? Beliau menjawab: Lalu siapa lagi ?!

    Al-Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah saw.bersabda: Akan datang kepada umatku apa yang datang kepada Bani Isra’il setapak demi setapak sehingga jika diantara mereka ada yang menggauli ibunya secara terang-terangan maka pada umatku akan ada yang sepertinya. Sesungguhnya Bani Isra’il bercerai berai menjadi tujuh puluh satu millah (sekte) dan umatku akan bercerai berai menjadi tujuh puluhtiga millah, semuanya didalam neraka kecuali satu millah. Mereka (para shahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, Siapa mereka ? Beliau menjawab: Yaitu sekte yang berada diatas apa yang saya anut dan dianut ashhabi(sahabat-sahabatku).”[22]

     

    Solusi Yang Ditawarkan Nabi saw.

    Adakah jalan keluar dari perselisihan dan perpecahan? Apa jaminan bahwa jalan keluar dari perselihan yang ditawarkan itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan?

    Sulit rasanya mencari jalan keluar dari perselisihan yang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan kecuali apabila jaminan itu datangnya dari Alah dan Rasul-Nya. Lalu adakah Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan jalan keluar dari kubangan perselisihan dalam agama? Jawabannya mesti kita cari dari sabda-sabda suci Rasulullah saw.

    Di sini kita Rasulullah saw. telah mengaskan bahwa Ahlulbait suci beliau lah pengaman bagi umat dari perselisihan dan perpecahan.

    Rasulullah saw. Bersabda:

    اَلنُّجُوْمُ اَمَانٌ لاَهْلِ الأَرْضِ مِنَ الْغَرْقِ وَاَهْلُ بَيْتِى اَمَانٌ لاُمَّتِى مِنَ اْلاِخْتِلاَفِ، فَاِذَا خَالَفَتْهَا قَبِيْلَةٌ مِنَ الْعَرَبِ آخْتَلَفُوْا فَصَارُوْا حِزْبَ اِبْلِيْسَ.

    “Bintang-bintang (di langit) adalah petunjuk kesela­matan bagi penghuni bumi dari bahaya tenggalam. Dan Ahlulbaitku adalah penyelamat umatku dari bahaya perselisihan dan perpecahan. Bila salah satu dari kabilah-kabilah Arab menyeleweng dan menentang, niscaya mereka akan bercerai berai dan menjadi partai iblis.”[23]

    Rasulullah bersabda:

    مَنْ اَحَبَّ اَنْ يَحْيَا حَيَاتِيْ وَيَمُوْتَ مِيْتَتِيْ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ الَّتِيْ وَعَدَنِيْ رَبِّيْ ، وَهِيَ جَنَّةُ الْخُلْدِ فَلْيَتَوَلَّ عَلِيًّا وَذُرِّيَّتَهُ مِنْ بَعْدِهِ ، فَاِنَّهُمْ لَنْ يُخْرِجُوْكُمْ بَابَ هُدًى وَلَنْ يُدْخِلُوْكُمْ بَابَ ضَلاَلَةٍ.

    “Barangsiapa yang ingin hidup seperti hidupku dan mati seperti matiku serta masuk surga yang telah dijanjikan Tuhanku untukku, yaitu Jannatul Khuld, hendaknya ia menjadikan Ali dan anak keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin yang dicintainya, sebab mereka itu tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu hidayat, dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam pintu kesesatan.”[24]

    Adakah kesamaran dalam solusi yang ditawarkan Nabi saw.? Dan adakah keraguan validitas jaminan jalan keluar tersebut? “Dan tiada Muhammad itu berucap menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS:53;3-4)

    Dan kenyataan ini telah dipertegas oleh Imam Ali as. dalam banyak sabda beliau, di antaranya:

    هُمْ عَيْشُ الْعِلْمِ وَمَوْتُ الْجَهْلِ ، يُخْبِرُكُمْ حِلْمُهُمْ مِنْ عِلْمِهِمْ وَظَاهِرُهُمْ عَنْ بَاطِنِهِمْ وَصَمْتُهُمْ عَنْ حُكْمِ مَنْطِقِهِمْ ، لاَ يُخَالِفُوْنَ الْحَقَّ وَلاَ يَخْتَلِفُوْنَ فِيْهِ وَهُمْ دَعَائِمُ اْلاِسْلاَمِ وَوَلاَئِجُ اْلاِعْتِصَامِ ، بِهِمْ عَادَ الْحَقُّ فِيْ نِصَابِهِ ، وَانْزَاحَ الْبَاطِلُ عَنْ مَقَامِهِ. وَانْقَطَعَ لِسَانُهُ عَنْ مَنْبَتِهِ ، عَقَلُوْا الدِّيْنَ عَقْلَ رِعَايَةٍ وَوِعَايَةٍ لاَ عَقْلَ سَمَاعٍ وَرِوَايَةٍ فَاِنَّ رُوَّاةَ الْعِلْمِ كَثِيْرٌ وَرُعَاتُهُ قَلِيْلٌ.

    Mereka itu kehidupan bagi ilmu, kematian bagi kebodohan. Keagungan akal mereka menunjukkan ilmu mereka, dzahir mereka (yang tanpak dari luar) menjelaskan apa yang ada dalam bathin mereka. Pendapat mereka dapat diketahui, meskipun mereka berdiam diri. Takkan pernah mereka berlawanan dengan kebenaran, dan takkan pernah berselisih tentangnya. Merekalah tiang-tiang Islam yang kokoh dan tempat-tempat berlindung yang aman. Hanya dengan mereka, kebenaran telah dikembalikan ke tempatnya dan kebathilan sirna dari kedudukannya, terputus lasannya dari sumbernya. Mereka memahami agama dengan pemahaman yang penuh kesadaran dan pengertian; bukan dengan pendengaran dan periwayatan semata. Sebab periwayat(penukil) ilmu itu banyak, tapi yang menjaga kebenarannya sedikit.[25]

     ________________

    [1] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adziim,1/389.

    [2] Raghib Al Isfahani. Mu’jam Mufradaat Al Faadz Al qur’an:105. Daar Al Fekr. Bairut.

    [3] Al Qaul Al Fashl,2/438.

    [4] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Zaid bin Tsabit dari dua sanad (jalur) yang shahih: pertama:7/182 dan yang ke dua:189. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syai­bah, Abu Ya’la dan Ibnu Sa’ad dari Abu Sa’id. Hadis ini juga disebutkan dalam Kanz Al Ummal:1/47 dengan nomer:945 dan 873. Selain disebut dalam kitab-kitab di atas, hadis itu disebut dalam:

    1. Al-Dur Al-Mantsur:2/60.
    2. Ihya’ Al Mait -di samping kitab Al-Ithaf-:116, dan pada cetakan Teheran:69 dengan nomer 56 dari riwayat Ahmad dan Al Thabarani.
    3. Al Jami’ Ash Shaghir:1/303.
    4. Yanabi’ Al-Mawaddah:38 dan 183, dan pada cetakan Al Haidariyah:42 dan 217.
    5. Majma’ Al-Zawaid:9/163 dan ia katakan dari riwayat Ahmad dan dalam:1/170 dari riwayat Ath Thabarani dan ia katakan bahwa rijaal (para perawi)nya tsiqaat.
    6. Al-Fathu Al-Kabir:1/451.
    7. Arjah Al-Mathalib:335.

    [5]    Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, bab fadlail Ali bin Abi Thalib,2/362. Dan pada naskah yang dicetak bersa­ma syarahnya pada,15/180, sebagaimana juga dimuat oleh banyak ulama’, di antaranya dalam kitab:

    1. Mashabih Al-Sunnah,2/278.
    2. Misykat Al-Mashabih, Damaskus,3/255, dan pada cetakan New Delhi,3/568.
    3. Is’af Al-Raghibin (di pinggir kitab Nur Al-Abshar), Al-Utsmaniyah:100, Al-Sa’diyah:108 dan Dar Al-Fikr:119.
    4. Nadzmu Durar Al-Simthain:231.
    5. Tafsir Al-Khazin, Al-Halabi, Mesir,1/4.
    6. Tafsir Ibnu Katsir, Dar Al-Ma’rifah,4/113, ketika menafsirkan ayat 23 surat Al-Syura.
    7. Yanabi’ Al-Mawaddah, Istanbul:29,191 dan 296, dan cetakan Al-Khairiyah:32,226 dan 355.
    8. Al-Sirah Al-Dahlaniyah (di pinggir kitab al-Sirah Al-Halabiyah), Al-Maktabah Al-Islamiyah, 3/330.
    9. Al-Fath Al-Kabir,1/252.

    10.Manaqib Ali bin Ali Thalib, Ibnu Maghazili Asy Syafi’i,236, hadis no.284.

    11.Al-Hafidz Ad Darimi, dalam kitab Sunannya,2/431,bab: Fadlail Al-Qur’an.

    12.Ahmad bin Hambal, dalam kitab Musnad-nya,4/367 dan 371.

    1. Al-Baihaqi, dalam kitab Al-I’tiqadnya, hal.163 dan kitab Su­nannya,1/113 dan 2/148 dengan sanad bersambung kepada Abu Hayyan Al-Taimi.
    2. Dzakhair Al-Uqba:16.
    3. Kifayah Al-Thalib, Al-Haidariyah:53 dan Al-Ghazzi:12.
    4. Faraid Al-Simthain,2/268 hadits ke-535.
    5. Abaqat Al-Anwar,1/78, 92, 104, 126, 147, 165, 186, 188, 192, 193, 198, 202, 203, 216, 233, 242, 255, 260, 264, 272, 275, 297 dan 301.

    [6] Jawahir:237, Al Qaul Al Fashl:2/444 dari riwayata Ibnu Uqdah, Al Madini, Ibnu Hajar dan Al Hafidz Abu Al Fath Al Ijli dalam Al Mujaz fi Fadhail Al Khulafa’. Dan riwayat serupa juga disampaikan oleh sahabat Hudzaifah ibn Usaid atau Zaid ibn Arqam (keraguan ini dari si perawi)m sebagaimana diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, Dhiyaa’ Al Maqdisi dalam Al Mukhtarahnya dan Abu Nu’aim dalam Hilyah-nya dengan jalur perawi yang disahihkan dan diterima oleh para ulama, seperti Bukhari, Muslim dan At Turmudzi. Demikian Allamah Habib Alwi bin Thahir Al Hadad dalam Al Qaul Al Fashlnya:2/436.

    [7] Al Hiskani, Syawahid at Tanzil,1/57, hadis no.86-87.

    [8] Dalail Ash Shidq,2/332 dari Yanabi’ Al Mawaddah:118.

    [9] Syawahid at Tanzil,1/130 hadis no.177 dan Yanabi’:258.

    [10] Ash Shawaiq:151-152.

    [11] Jawahir:245.

    [12] Nur Al-Abshar:124.

    [13] Is’afaf ar Raghibin:118

    [14] Syawahid At Tanzil,1/130 hadis no.180.

    [15] Ruh Al Ma ‘ani,4/16.

    [16] Ad Durar Al Naqiyyah;29.

    [17] Rasyfat Ash Shadi:25.

    [18] Yanabi’ Al Mawaddah:118.

    [19] Rasyfat As Shadi:25, Limadza Ikhtartu Madzhab Asy Syi’ah: 25 dan An Nadzarat AI Ilahiyah fi Al Mamadih Al Mubammadiyyah:212.

    [20] Syawahid At Tanzil,1/130-131,hadis no.178.

    [21] Lebih lanjut tentang riwayat-riwayat di atas baca al-Qaul al-Fashl :2\480, Buhuts Fi al-Milal Wa an-Nihal; Syeikh Ja’far Subhani juz 1 Bagaian Pendahuluan dan tafsir Al-Mizan,3\431-436.

    [22] Hadis tentang berpecah umat Islam menjadi 73 (tujuh puluh) golongan meski dari sisi sanad masih dipermasalhkan pada sebagiannya, akan tetapi ia diterima adanya oleh para ulama dan pemikir Islam Sunni. Mereka mengatakan bahwa berbilangnya jalur periwayatannya menjadikannya bias diterima. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hadis tentang terpecahnya umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan adalah berita yang masyhur yang telah diriwatkan dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah, Sa’ad, Mu’awiyah, ‘Amr bin ‘Auf dan lain –lain. (Iqtidhaa’ Ash-Shirath al-Mustaqim :31-33).

    [23] Hadis ini diriwayatkan oleh banyak ulama’ di antaranya (1) Al Hakim dalam Al Mustdrak,3/149 dari Ibnu Abbas, dan ia berkata, “Sanadnya sahih, tapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya”, dan dari Al Hakim dikutip oleh beberapa ulama, seperti Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul Umal, 6/217, Al Suyuthi dalam Ihya’ Al Mait, hadis ke:35, Ibnu Hajar dalam Shawaiq:234, Al Shabban dalam Isqaf al-Raqhibiin:130, Al Qanduzi Al Hanafi dalam Yanabi’:298, dan beberapa ulama lainnya.

    [24] Kanzul Ummal,6/155 hadis ke 2578 juga dimuat dalam Muntahab Kanzul Ummal, lihat catatan pinggir Musnad Ahmad,5/32.

    [25] Lebih lanut baca Dua Pusaka Nabi Saw.; Ali Umar Al Habsyi.


    Renungan:
    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara,
    karena itu damaikanlah kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat: 10).